Aku tak tahu apa yang terjadi waktu itu. Sebenarnya siapa diri Kau itu? Mengapa Kau datang dan pergi seenaknya dalam kehidupan Aku?
Apakah Kau benar-benar Dia? (Dia:orang dalam pengakuan Kau ke Aku) Tapi kalau iya mengapa saat Aku meminta untuk jadi teman Dia[Kau] di salah satu jejaring sosialnya, Dia[Kau] seolah-olah gak mengenali Aku? Mengapa? Mengapa waktu itu Dia[Kau] menolak permintaan Aku? Apakah Dia[Kau] orangnya memang introvert?
Atau sebenarnya Kau[Dia] itu bukan Dia[Kau]? Jika Kau[Dia] emang bukan Dia[Kau], Aku tak mengerti mengapa Kau[Dia] tega melakukannya pada Aku? Sebenarnya apa salah Aku pada Kau[Dia]? Taukah Kau[Dia] bagaimana Aku menjalani hidup selama 7 tahun terkhir ini?
Asal Kau [Dia] tau, selama ini SEMANGAT hidup Aku karena Dia[Kau]. Dia[Kau] yang pernah menelpon aku di saat hari pertama UN SMP adalah lentera hidupku. Sms2 n salam2 yang Kau[Dia] berikan ke Aku telah menanamkan semangat dalam diri Aku.
Mengapa saat itu (hari pertama UN SMP) aku tidak menelpon balik Kau[Dia]? Karena Aku pikir waktu itu Kau[Dia] hanya ingin memberikan semangat untuk belajar ke Aku sebagai feed back semangat yang telah Aku berikan ke Kau[Dia] waktu tengah malam itu. Jadi u/ sementara waktu Aku tidak usah menghubungi Kau. Apalagi itu adalah hari-hari UN. Aku takut kalau konsentrasi belajar Kita (Aku dan Dia[Kau]) akan terganggu. Alhasil, result UN Aku waktu itu sangat memuaskan. Di antaranya, Aku mendapat remarks 10 untuk Matematika. Dan taukah Kau? itu karena waktu aku mengerjakannya membayangkan sikap dingin Dia[Kau] saat baca puisi :)) peace!
Mengenai ajakan Kau[Dia] u/ pertemuan Kita di salah satu toko buku terkemuka di kota kelahiran Ku, mengapa Aku menolaknya? Karena waktu itu Kita masih kecil dan Aku pikir Kita tak layak untuk menjalin hubungan lebih dari teman. Namun, Aku sangat berharap di saat kita dewasa nanti Kita bisa melanjutkannya.
Saat itu mencintai Dia[Kau] hanya cukup dengan menunjukkan prestasi-prestasi. Apalagi saat itu Dia[Kau] adalah Terbaik ke-2 Siswa Berprestasi Kabupaten. Rasanya, diri ini (yang hanya mempu menduduki peringkat 5 Siswa Berprestasi) tak pantas bagi Dia[Kau]. Karenanya, mulai waktu itu aku bertekad dalam diri Aku sendiri, untuk Jenjang SMA besok aku harus mampu menembus 3 besar. Dan taukah Kau[Dia]? Akhirnya saat Aku SMA tekad itu tercapai. Aku berhasil meraih juara III se-Kab dengan selisih tidak ada 0.1 poin dari juara II. Namun, sayang waktu itu Dia[Kau] tidak ikut berkompetisi. Yach, tapi perwakilan dari sekolah Dia[Kau] juga tidak kalah keren kok. Sekolah Dia[Kau] u/ kategori putra berhasil meraih juara II. Selamat ya......
Huah, akhirnya...... aku bisa juga mengeluarkan semua ini. lega rasanya....Ya, meskipun di blog tapi tak apalah. Aku berharap suatu hari nanti Dia[Kau] membaca tulisan ini. Sebenarnya jika diizinkan Aku ingin bertemu dengan Dia[Kau], meskipun hanya satu detik, untuk mengucapkan terima kasih. Terima Kasih Dia[Kau] telah menjadi lentera Aku.
Apakah Kau benar-benar Dia? (Dia:orang dalam pengakuan Kau ke Aku) Tapi kalau iya mengapa saat Aku meminta untuk jadi teman Dia[Kau] di salah satu jejaring sosialnya, Dia[Kau] seolah-olah gak mengenali Aku? Mengapa? Mengapa waktu itu Dia[Kau] menolak permintaan Aku? Apakah Dia[Kau] orangnya memang introvert?
Atau sebenarnya Kau[Dia] itu bukan Dia[Kau]? Jika Kau[Dia] emang bukan Dia[Kau], Aku tak mengerti mengapa Kau[Dia] tega melakukannya pada Aku? Sebenarnya apa salah Aku pada Kau[Dia]? Taukah Kau[Dia] bagaimana Aku menjalani hidup selama 7 tahun terkhir ini?
Asal Kau [Dia] tau, selama ini SEMANGAT hidup Aku karena Dia[Kau]. Dia[Kau] yang pernah menelpon aku di saat hari pertama UN SMP adalah lentera hidupku. Sms2 n salam2 yang Kau[Dia] berikan ke Aku telah menanamkan semangat dalam diri Aku.
Mengapa saat itu (hari pertama UN SMP) aku tidak menelpon balik Kau[Dia]? Karena Aku pikir waktu itu Kau[Dia] hanya ingin memberikan semangat untuk belajar ke Aku sebagai feed back semangat yang telah Aku berikan ke Kau[Dia] waktu tengah malam itu. Jadi u/ sementara waktu Aku tidak usah menghubungi Kau. Apalagi itu adalah hari-hari UN. Aku takut kalau konsentrasi belajar Kita (Aku dan Dia[Kau]) akan terganggu. Alhasil, result UN Aku waktu itu sangat memuaskan. Di antaranya, Aku mendapat remarks 10 untuk Matematika. Dan taukah Kau? itu karena waktu aku mengerjakannya membayangkan sikap dingin Dia[Kau] saat baca puisi :)) peace!
Mengenai ajakan Kau[Dia] u/ pertemuan Kita di salah satu toko buku terkemuka di kota kelahiran Ku, mengapa Aku menolaknya? Karena waktu itu Kita masih kecil dan Aku pikir Kita tak layak untuk menjalin hubungan lebih dari teman. Namun, Aku sangat berharap di saat kita dewasa nanti Kita bisa melanjutkannya.
Saat itu mencintai Dia[Kau] hanya cukup dengan menunjukkan prestasi-prestasi. Apalagi saat itu Dia[Kau] adalah Terbaik ke-2 Siswa Berprestasi Kabupaten. Rasanya, diri ini (yang hanya mempu menduduki peringkat 5 Siswa Berprestasi) tak pantas bagi Dia[Kau]. Karenanya, mulai waktu itu aku bertekad dalam diri Aku sendiri, untuk Jenjang SMA besok aku harus mampu menembus 3 besar. Dan taukah Kau[Dia]? Akhirnya saat Aku SMA tekad itu tercapai. Aku berhasil meraih juara III se-Kab dengan selisih tidak ada 0.1 poin dari juara II. Namun, sayang waktu itu Dia[Kau] tidak ikut berkompetisi. Yach, tapi perwakilan dari sekolah Dia[Kau] juga tidak kalah keren kok. Sekolah Dia[Kau] u/ kategori putra berhasil meraih juara II. Selamat ya......
Huah, akhirnya...... aku bisa juga mengeluarkan semua ini. lega rasanya....Ya, meskipun di blog tapi tak apalah. Aku berharap suatu hari nanti Dia[Kau] membaca tulisan ini. Sebenarnya jika diizinkan Aku ingin bertemu dengan Dia[Kau], meskipun hanya satu detik, untuk mengucapkan terima kasih. Terima Kasih Dia[Kau] telah menjadi lentera Aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What is on your mind?